Bus! Tunggu Aku!

Jumat kemarin, untuk pertama kalinya saya ketinggalan bus Trans Jakarta terakhir yang menuju Kalideres. Niat awalnya sih pulang agak malam dari kantor untuk menghindari antrian panjang yang kayak ular naga belum makan tujuh hari tujuh malam, dengan asumsi (sotoy2nya saya aja sih) kalau sudah malam, antrian akan lebih sedikit. Yah, asumsinya sih nggak salah ya. Emang antriannya lebih sedikit dari ‘peak hour’ nya. Tapi! bus nya juga ikut menipis perputarannya, jadi kudu musti harus (triple) nunggu lebih lama lagi.

Meskipun sudah berjalan sangat cepat (secepat yang saya bisa), sampai kaki agak terasa ketarik sedikit, keringat mengucur, napas tersengal, jantung dag dig dug kembang kuncup nunggu bus, sambil agak mengumpat dalam hati kalau dilewatin sama bus nya. Tapi.. ya emang dasar nasib (kasihan ya si Nasib, kalau ada kejadian apa-apa, selalu dia jadi kambing hitamnya :P ) si bus Trans Jakarta yang ke Dukuh Atas itu punya penyakit nyebelin, kalau bus nya lagi ramai antri mau turunin penumpang, padahal jaraknya ngga sampai 20m, bisa nunggu di bus nya 15-20 menitan. Itu bener-bener cuma buat bus nya saling ngekor2an antri turunin penumpang ke halte.

Hal ini yang kadang membuat saya punya niat untuk melatih kemampuan menyetir mobil, biar ngga kena penyakit ‘panik ketinggalan bus’. Sayangnya, niat itu selalu hilang timbul seiring dengan kondisi yang ada. Apalagi setelah melihat dan menelaah dan mempertimbangkan keadaan yang ada sekarang.

Berikut ini hasil pengamatan saya sendiri sih, kalo ada yang berbeda, boleh ditambahin ya..

Transportasi umum:
Trans Jakarta :

  • (+) Jauh dekat 3500rupiah saja, bahkan kalau berangkat sebelum jam 7 pagi cukup 2000rupiah saja (selama kita ga sampai di halte terakhir, bahkan mau muter-muter keliling Jakarta juga bisa loh)
  • (-) Meski ringan di kantong dompet, tapi pada saat-saat tertentu bisa sangat menguras kesabaran. Karena tidak ada penjadwalan terhadap kedatangan dan keberangkatan bus, jadi setiap mau menggunakan fasilitas Trans Jakarta ini diharapkan banyak-banyak berdoa dan siap-siap bermain tebak tebak buah manggis, kalau pas rame ya cuma bisa meringis.. MENUNGGU. Kesabaran untuk menunggu dan beramai ramai ria ngantri dan masuk ke dalam bus amat sangat dibutuhkan, bahkan kalau bisa, saya sarankan silahkan men-stok cadangan kesabaran anda. Apalagi kalau anda adalah penumpang reguler, saya sarankan bawalah sesuatu yang dapat menemani anda selama menunggu dan pada saat berada di perjalanan, seperti mp3, radio, buku bacaan, mainan, teman, atau pacar (belom punya? derita loooo! *ngga ngaca ya Put??)
  • (-) Waktu terbatas. Trans Jakarta beroperasi hanya sampai pukul 22 malam, jadi kalau mau lembur atau ngopi-ngopi manis, atau nongkrong-nongkrong seru bareng teman setelah jam kantor, mau tidak mau akan memiliki sindrom Cinderella. Kalau Cinderella panik sebelum jam 12 malam harus pulang, kalau saya.. panik jam 10 kurang harus sudah sampai di Harmoni supaya ga ketinggalan bus. Jadi harus pintar-pintar mengira dan melakukan perhitungan brapa menit jalan ke halte, brapa menit nunggu, brapa menit kalau nunggu lama, brapa menit kalau kena lampu merah, brapa menit kalau macet, dan brama menit kalau bus nya ngantri turunin penumpang. Boleh di hitung pakai kakulator, sempoa ataupun jari, yang enak aja buat masing-masing ya. :P

Angkot – Bus :

  • (+) Naik angkot bisa lebih cepat daripada naik Trans Jakarta. Kenapa? Karena ngantrinya di pinggir jalan aja, bus nya lebih banyak pilihannya, dan turunnya bisa dimana aja dibandingkan Bus Trans Jakarta yang kalau mau naik, harus naik tangga, jalan di jembatan, turun menuju halte, ngantri di halte.. begitu juga sebaliknya. Untuk rutinitas seperti itu aja bisa menghabiskan minimal 2 menit. -_-a.
  • (-) Ga ada AC, adanya angin alami yang seringan tercampur sama debu dan asap knalpot di jalan.
  • (-) Lebih rawan, dan kurang nyaman. Karena orang lebih bisa naik turun bus sembarangan, mulai dari pengamen, tukang minta-minta, tukang jualan dari yang jelas sampai ga jelas, ada semua. Sehingga harus ekstra hati-hati.

Taksi :

  • (+) Untuk taksi yang jelas, pastinya cukup nyaman. Di antar sampai tujuan, bisa tidur selama perjalanan (ini sih kalau yang udah yakin dan berani aja :P ).
  • (-) Nyaman di hati, tapi tak nyaman di dompet. Apalagi kalau naik taksinya sendiri (ga ada teman patungan) dan jarak yang di tempuh cukup jauh. Yang ada, habis keluar dari taksi cuma bisa kemut jempol karna bokek mendadak.

Kendaraan Pribadi :

  • (+) Aman dan nyaman, mau kemana aja bisa yang penting tau jalan dan bahan bakarnya cukup. Bisa bersantai (kalau di mobil), sambil nyanyi2 sendiri mungkin, atau bermellow2 ria ngga jelas.
  • (-) Kalau kena macet, ya.. harus tabah dan pasrah, ga kayak naik angkot yang mobilnya bisa kita tinggalin buat cari alternatif lain.
  • (-) Lebih boros, karena harus bayar bahan bakar dan parkir untuk sehari-hari, belum lagi untuk perawatan rutin biar kendaraan ngga mudah rusak.

Menurut kamu, masih ada ga alternatif transportasi selain di atas? Atau ada yang mau ditambahkan ngga dari hasil pengamatan saya itu? Ga usah malu :P

Berdasarkan hasil pengamatan itu, saya tetap cenderung jadi pengguna bus Trans Jakarta yang mencoba untuk setia sih. Kalau kamu, apa caramu bertransportasi di Jakarta ini? Cerita doonk :D

  • Print
  • RSS
  • Twitter
  • del.icio.us
  • Digg
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • LinkedIn
  • Tumblr

Kalo k jakarta mah better nebeng kendaraan tmen aja deh..
Asal ga dsuruh nyetir aja hahahay

wah susah yah pue..

angkot/mini bus : punya pengalaman buruk musti dempet2an dgn org lain, plus gak aman.

busway : gak tau halte dan arah2nya. :oops:

taksi : MAAAHHHHAAALLL!!

jadi pilihan jatuh ke mobil pribadi!! lebih bgs lagi kalo punya supir pribadi. ahay! :roll:

Cara saya untuk bertransportasi di Jakarta ini adalah dengan bersimbiosis komensalisme (ato malah parasitisme)

Nebeng maksudnya. Berhubung buat naik transportasi publik tak cukup nyali, buat punya mobil tak cukup uang.

Gitu deh..

Kalo bisa naek sepeda, gw pilih sepeda!

Leave a Reply